 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Coba lo liat posternya deh. Dari posternya aja, gue udah mikir bahwa film yang satu ini pasti komedi abis. Dan ternyata bener, komedi banget. Komedi yang tokoh utamanya itu sangat procedural yang pada akhirnya membawa begitu banyak kelucuan-kelucuan aneh bin ajaib.
Adalah Maxwell Smart (Steve Carell) , seorang analisis terbaik untuk agen rahasia Amerika, yang mengimpikan untuk menjadi seorang agen lapangan. Ia menempuh begitu banyak tes, hingga akhirnya, ia pun lulus untuk menjadi seorang agen lapangan. Hanya saja, keahliannya di bidang analisis membuat sang atasan tidak melepaskannya untuk menjadi seorang agen lapangan. Namun, karena satu insiden, dimana semua agen rahasia telah diketahui identitasnya, maka ia dipromosikan untuk menjadi seorang agen rahasia.
Misinya adalah untuk menggrebek penggelapan bom nuklir dari Rusia ke Amerika. Tentu saja, misi berjalan sukses pada akhirnya, namun kelucuan-kelucuan yang timbul pada saat misi dijalankan dan diselesaikan itulah yang membuat rahang gue sakitnya setengah mati.
Film ini menurut gue mirip dengan Naked Gun. Kebodohan seorang agen yang disertai entah apalah itu akhirnya bisa membawa sang tokoh menjadi sangat luar biasa sukses.
Kalo’ mau ketawa, nonton deh film ini.
Gue ngasih 3 bintang, karena bagi gue, ceritanya itu simple banget (2 stars), tapi kocaknya mampu ngedongkrak film ini naik. Jadinya, film ini rada ngidupin suasana sih. Makanya, bisa ngebuat rahang gue sakit memperkuat bintangnya menjadi 3. Asli lucu. Banget lucunya.
Pemain: Steve Carell Anne Hathaway Dwayne Johnson Alan Arkin Terence Stamp James Caan   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Hunting Party ini sebenarnya salah satu film yang gue tunggu, tapi gue lupa kalo’ gue nunggu (hah?). Film yang satu ini cukup menyenangkan menurut gue. Inspired from true story tapi ada konyolnya juga. Jadi menurut gue, ini film yang rada lumayan dan tentu saja, sekaligus membongkar begitu banyak pertanyaan yang beredar di kalangan pemegang kekuasaan.
Hunting Party bercerita tentang jurnalis TV, seorang wartawan, Simon Hunt (Richard Gere) dan seorang kameramen, Duck (Terrence Howard). Mereka berdua adalah tim jurnalis yang terbaik yang pernah ada. Bahkan ada begitu banyak penghargaan yang mereka terima oleh karena hasil karya mereka. Namun, satu kejadian telah membuyarkan segala-galanya. Simon harus didepak dari televisi karena melaporkan berita yang sangat blak-blakan meminta pertanggungjawaban dari pemegang kekuasaan, bahkan sampai ke lembaga internasional, UN, sekalipun; Duck? He’s got promoted.
Lama berselang hingga Duck harus pergi ke Bosnia, daerah dimana ia dan Simon pernah meliput begitu banyak berita. Dan… di sana lah mereka kembali bersatu. Tujuan mereka bersatu kali ini adalah untuk menemui pimpinan pembantaian, menangkapnya dan tentu saja mengadilinya.
Ceritanya bagus banget, mungkin karena ini inspired dari true story (walaupun ada bagian konyolnya, yang sengaja di-add) dan ngebuat lo mikir juga.
Disini dicerita’in bahwa no matter seberapa bagus nilai elo di sekolah, elu belum tentu capable di dunia nyata, dunia lapangan. So, jangan sombong.
Latar belakang mengapa Simon dipecat juga sebenarnya bisa menjadi satu pelajaran yang bagus. Gimana ketika hati elo hancur berkeping-keping, namun elo harus ‘bersandiwara’ di depan kamera untuk mengatakan bahwa sesuatu yang jahat terjadi, karena memang sulit untuk ditaklukkan. Yang sebenarnya terjadi adalah kejahatan terjadi karena memang tidak pernah ada usaha untuk ditaklukkan. Semua orang cuman bisa lihat segala sesuatu dari luar dan nggak pernah menilik ke dalam. Lalu mulai menghakimi; hanya karena informasi yang didapat itu sepotong.
Well, yah, cerita yang diinspirasiin dari cerita nyata ini cukup bagus; ditambah lagi beberapa kekonyolan (kalo’ ini sih fiktif yah, konyolnya), ngebuat gue jadi suka sama film ini. Film ini juga merupakan satu teguran buat kita, politik itu ternyata sangat kental di hidup para penguasa. Aneh banget, lembaga internasional selama 5 tahun nggak bisa nangkep buronan yang bisa ditangkep oleh orang biasa dalam waktu 2 hari.
Ini sih menurut gue yah. Tapi, gue rasa, menurut beberapa orang, cerita ini biasa-biasa aja. Hehehehe… Bagi gue, tetep 4 bintang.
Btw, buat yang benci sama Richard Gere, yah... jangan BT yah. Gue netral sih sama orang itu. Gue cuman suka ceritanya. Heheheh...
Pemain: Richard Gere Terrence Howard   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Gue sebenarnya nggak terlalu tertarik sama Hulk, mahluk ijo yang aneh bin ajaib. Even sampe’ ke kartunnya pun gue nggak suka. Tapi, gue nonton juga film yang satu ini. Itung-itung, gue belajar jadi orang yang berusaha untuk mencari tahu sesuatu dan nggak men-judge sesuatu hanya karena gue punya ‘pengalaman’ nggak enak sebelumnya akan sesuatu.
Hulk ini rasanya yang kedua yah, gue pribadi kurang tau deh judulnya apa, selain: The Incredible Hulk. Hulk yang ini cerita tentang berbagai usaha yang dilakukan oleh Bruce Banner (Edward Norton), untuk menghentikan transformasi dirinya menjadi hulk di saat denyut nadinya mencapai angka 200; either karena excitement atau karena marah atau mungkin ekspresi emosi lainnya.
Mulai dari ia berada di Brazil, sampai dia berada di Guatemala, hingga kembali ke tempat asalnya, Amerika. Kembali menemui sang kekasihnya, namun ia juga kembali untuk menemui salah satu rekannya di dunia maya, Mr. Blue, untuk mengetahui apakah Mr. Blue dapat membantunya untuk menghentikan transformasi dirinya menjadi Hulk.
Dalam perjalanannya, ia kembali harus berurusan dengan sang Jendral, yang sudah sejak lama menginginkan dirinya. Di lain pihak, sang Jendral menyadari bahwa harus ada satu kekuatan yang tak kuat besar untuk bisa mengatasi Hulk. Oleh karena itu, salah satu dari anak buahnya, menjalani eksperimen seperti yang dialami oleh Bruce sebelumnya.
Selang beberapa waktu, sang anak buah menjadi besar kepala, dan terus mengikuti Bruce, hingga ia sendiri sampai ke Mr. Blue, yang memberikannya sample penelitiannya. Sang anak buah menjadi raksasa dengan kekuatan yang sepantar (apa mungkin lebih yah?) dari Bruce. Bruce akhirnya turun tangan, karena sang anak buah pun mulai mmporak-porandakan kota.
Akhir cerita? Tentu saja, Hulk menang. Tapi, lagi-lagi Hulk harus lari dari orang banyak.
Menurut gue sih, ceritanya standar banget. Efeknya lumayan, terutama, gue suka banget efeknya waktu Hulk harus deal dengan armadanya si Jendral, efen sampe’ ke senjata ultrasonic. Dangdut? Well, iya sih. Kenapa dangdut? Term-term kayak ‘cinta memberikan kekuatan yang tak terkalahkan’ kembali diangkat. Jadinya, ya… gitu deeehhh…
Terakhirnya sih gue suka. Karena dikasih liat bahwa di akhir cerita, Bruce tidak lagi mencoba untuk menahan dirinya berubah, melainkan ada waktu-waktu dimana dia sengaja untuk berubah (iseng amat).
O iya, masih inget Starks, produsen senjata di Ironman gak? Nah, disini, dia muncul juga. Menawarkan senjata ke si Jendral, sebagai Starks. Lucu aja sih menurut gue. Hehehhee… mungkin, kalo’ yang nggak nonton Ironman sih cuek-cuek aja. Tapi gue sih, jadi merasa lucu aja. Satu jagoan hilang (Hulk), muncul jagoan lainnya (Ironman). Adakah nanti satu film yang sengaja dibuat dimana Hulk akan bertemu dengan Ironman? Heheheheh…
Dua aja sih dari gue yah :D
Pemain: Edward Norton Liv Tyler Tim Roth William Hurt Craig Armstrong   | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Film yang satu ini sebenarnya banyak ditunggu sama banyak orang (as I recall). Film ini gue tonton sebagai sebuah ajang pembuktian, bahwa gue cukup sehat untuk bisa mulai beraktifitas. Dan dari (pejuangan gue untuk nonton) film ini juga, gue belajar that I wasn’t strong enough untuk beraktifitas (nggak nyambung yah sama reviewnya?).
Film ini cerita tentang persahabatan 4 orang cewek, Carrie (Sarah Jessica Parker), Samantha (Kim Cattrall), Charlotte (Kristin Davis) sama Miranda (Cynthia Nixon). Mereka ini best friend ‘till the end, walaupun mereka tinggal di kota yang berbeda. Well, I don’t really know how far New York and Brooklyn, nor LA. Tapi, kayaknya, LA yang paling jauh sendiri (secara Samantha kalo’ ke NY itu selalu naik pesawat).
Diawali dengan cerita tentang Carrie yang akan dinikahi oleh Big (Chris Noth), kekasihnya selama 10 tahun. Lamarannya biasa banget, tapi line-nya gue suka banget. “All I want, is you,” kata Big. Dan Big juga bilang, kalo’ emang untuk mendapatkan Carrie ia harus menikahinya, maka ia akan menikahinya. As simple as that.
Persiapan pun dibuat secara sempurna. Pada saat yang bersamaan, Miranda ribut dengan suaminya, Steve (David Eigenberg). Lantaran, Steve merasa ia tidak mendapatkan sex yang seharusnya ia dapatkan dari Miranda (she’s really into work), sehingga ia akhirnya mencari dari diri wanita lain. Miranda marah besar dan pisah dengan Steve.
Di gladi bersih acara makan malam pernikahan Carrie dan Big, Steve mendatangi Miranda, dan Miranda marah besar. Pada saat itulah, Big mendatangi Miranda, bertanya apakah ia baik-baik saja. Miranda spontan kesal dan mengeluarkan kalimat, “You two are crazy to get married.” Kalimat itu menyentak Big yang telah dua kali menikah dan gagal. Singkat cerita, Carry dan Big tidak jadi menikah.
Kemudian hal-hal tersebut menjalar ke arah lain, yang intinya memberikan kepada mereka berempat satu pemikiran tentang apa yang mereka namakan sebagai relationship, between man and women. Di antara mereka, Charlotte memang yang terlihat paling bahagia, lantaran pernikahannya berlangsung dengan langgeng dan memang terlihat sempurna.
Cerita ini mengangkat isu pertemanan di antara mereka. Bukan cuman yang baik-baik yang mereka dapatkan dari satu sama yang lain, tapi juga ketika mereka berusaha untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Bagaimana menegur seseorang itu bukan berarti you don’t care, it’s just the opposite; they do care.
Gue belajar banyak dari film ini, terutama tentang persahabatan dan tentu saja esensi kehidupan. If you think that by getting married your life must be perfect, then you really need to see this movie. Ada hal-hal ekstra yang harus dipikirin when you are married. Uniknya keempat sahabat ini adalah apapun keputusan yang diambil oleh salah satu orang, yang lain akan mendukung, tentunya jika keputusannya itu dilihat sebagai yang terbaik bagi orang tersebut. Even ketika Samantha memutuskan untuk hidup single bahkan di usianya yang ke-50, nggak ada satu pun yang protes atau even maksa-maksa, “Lo nikah napah?”
Sebuah film yang cukup bagus sebenarnya untuk belajar esensi tentang persahabatan dan untuk mengambil keputusan dalam masalah hubungan. Selesai nonton ini, gue langsung evaluasi semua hubungan pertemanan gue. Hehehe… ternyata, pertemanan yang gue punya, nggak sebanding dengan apa yang mereka punya. Pengen juga punya lingkaran pertemanan yang kayak gitu. I hope, I’ll get it
Dari segi cerita, gue suka. Esensinya yah. Cuman, menurut gue, film ini lama banget (dan berasa di gue). Ada juga film yang lama, cuman gak berasa di gue, Ironman contohnya. Gue ngasih 4 bintang, karena gue belum pernah nonton seriesnya. Mungkin kalo’ bagi orang yang udah sering lihat episode seriesnya akan ngasih tanggapan bahwa film yang satu ini sebenarnya seperti salah satu episode dari seriesnya yang diangkat ke layar lebar (referensi: salah seorang temen MP, temen nonton, temen makan, temen maen sepeda, temen pembenci paradise city-nya guns and roses :P).
Gue suka nilai persahabatan yang ditampilin disini, walaupun kayaknya… to good to be true ah. Btw, ringtone gue salah satu theme song-nya lho, My Friend dari Amanda Groove (lagu BodyBalance juga :D).
Pemain: Sarah Jessica Parker Kim Cattrll Kristin Davis Cynthia Nixon Chris Noth David Eigenberg   | Category: | Movies | | Genre: | Animation |
Satu lagi karya dream works yang sangat menggugah hati gue, setelah Shrek 1. Kung Fu Panda ini udah gue tunggu-tunggu dari semenjak iklannya di bulan April kalo’ nggak salah. Akhirnya, setelah penantian bertubi-tubi, film yang satu ini keluar juga.
Kung Fu Panda cerita tentang seekor Panda, Po (Jack Black), yang punya interest pada Kung Fu. Dia nggak belajar Kung Fu, tapi dia mencintai Kung Fu. Tokoh yang ia sukai adalah the Furious Five (Tigress (Angelina Jolie), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu), Monkey (Jackie Chan) sama Crane (David Cross)). Dengan segala keterbatasannya, ia tetap mencintai Kung Fu walaupun mungkin ia terlihat bodoh, besar, gendud, hanya berjualan bakmie, dan lain sebagainya.
Di desa Po, terdapat legenda mengenai Pendekar Naga. Pendekar Naga adalah pendekar yang akan membawa kedamaian bagi desanya. Namun, sampai dengan saat itu, tidak seorang pun tahu siapa Pendekar Naga yang sebenarnya.
Suatu hari, sang guru besar, Oogway (Randall Duk Kim), memiliki firasat bahwa Thai Lung, seekor snow leopard yang dipenjara karena membuat keonaran di desa, akan bebas dari penjara. Oleh karena itu, ia beserta Shifu (Dustin Hoffman) berniat untuk mencari Pendekar Naga. Pencarian ini diumumkan ke seluruh desa. Kandidatnya adalah salah satu dari Furious Five.
Singkat cerita. Furious Five bukanlah pendekar Naga. Tapi Po. Po ditakdirkan untuk mengalahkan Thai Lung. Oleh karena itu, Shifu harus melatih Po hingga ia bisa mengalahkan Thai Lung.
The rest of the story, I’ll leave it to you to watch it yourself.
Film ini bagus karena film ini kocak banget dan punya nilai filosofis yang tinggi dan sangat tersirat. Gue belajar banyak dari ini, pendeta gue juga rekomen film ini untuk ditonton semua jemaatnya. Film ini asli bagus banget.
Seperti halnya Shrek 1, produk dreamworks yang nilai filosofisnya juga cukup tinggi, Kung Fu Panda juga demikian.
1. What makes something special is to believe that it is special. Ini dibilang sama ayahnya Po. Satu kalimat yang ngebuat Po jadi mengerti akan dirinya sendiri.
2. When you focus on Kung Fu, you’re stinks. Ini line yang dipake’ sama Shifu untuk ngajar’in Po. Karena emang Po nggak bisa disuruh belajar Kung Fu konvensional seperti Furious Five. Tapi disini diajarin bahwa to teach someone on something, kita nggak cuman pake’ satu metode aja. Ada begitu banyak metode yang jauh lebih efisien ketimbang memberlakukan satu metode yang sama pada begitu banyak orang.
3. What you need to do is to believe. Kadang, kita nggak percaya bahwa diri kita itu bisa untuk melakukan sesuatu. Orang ngeliat kita able to do things, but we just don’t believe in ourselves. You are what you think. When you think you can’t, then you can’t.
4. Kita semua itu punya kekuatan dan jalan hidup masing-masing. Ngapa’in kita berusaha keras untuk menjadi orang who we are not? Mendingan jadi diri sendiri. Coba deh, gali diri sendiri lebih dalam lagi, you’d be surprise what you’ll get out of it. And trust me, being yourself is hard enough; apalagi kalo’ lo jadi diri orang lain? Frustasi yang ada.
5. banyak lagi tentunya
Gue nonton film ini sampe’ dua kali berturut-turut (hari Jum’at sama Sabtu kemaren). Karena emang film ini bagus banget. Endingnya juga nggak cengeng surengeng. Kocak dari awal sampe’ akhir. Yang ada, keluar dari bioskop, rahang gue pegel banget.
Sangat sangat sangat gue recommend buat ditonton. Defnitely five stars out of five; twn stars out of ten; a hundred stars out of a hundred.
Komen kakak gue sih, “Filmnya kurang lama”. Kalo’ gue, “Lucunya kurang lama”. Tapi, definitely perfect movie for me
Penantian gue ternyata nggak sia-sia yah
Pengisi suara: Oogway – Randall Duk Kim Shifu – Dustin Hoffman Po – Jack Black Tigress – Angelina Jolie Mantis – Seth Rogen Crane – David Cross Viper – Lucy Liu Monkey – Jackie Can Thai Lung – Ian McShane     | 21 | Jun 15, '08 11:13 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Other |
Film yang satu ini cukup unik menurut gue dan nggak ada salahnya kalo’ gue kasih 4 bintang. Gue sebenarnya nggak tau mau mengkategorikan film yang satu ini ke genre yang mana, tapi ceritanya, menurut gue cukup menyenangkan (at least buat gue yah).
Ben Campbell (Jim Sturgess) adalah orang genius yang sekolah di MIT. Dia dapet IP 4 dan semua score lainnya yang mencapai angka sempurna. Dia pengen banget nerusin sekolahnya ke Pre-Medical School Harvard. Hanya satu masalahnya, biaya. Menurut perhitungannya, Ben memerlukan uang sebesar 300.000 dollar untuk meng-cover segala sesuatunya. Ada sih, satu beasiswa yang namanya beasiswa Robinson. Hanya saja, ia harus bersaing dengan begitu banyak calon siswa/i yang tak kalah cerdas dengan dirinya. Yang harus ia buat adalah satu esai, menceritakan pengalaman hidupnya yang bisa dazzled sang penguji.
Salah satu kemahiran Ben adalah dalam angka. Profesor Mickey Rosa (Kevin Spacey), salah satu dosennya, telah mengidentfikasi kejeniusan Ben di bidang yang satu ini. Ia pun berniat untuk mengambilnya menjadi salah seorang anggota tim yang telah dibentuknya semenjak lama. Tim yang dimilikinya juga terdiri dari orang-orang yang jenius dalam bidang angka. Tim Profesor Rosa adalah tim blackjack. Kekurangan uang, mendapatkan kesempatan, membuat Ben ingin mencoba. Akhirnya, Ben pun bergabung dengan tim Profesor Rosa, dan secara rutin mengunjungi Las Vegas.
Suatu kali, Ben kalah taruhan sebesar 200 ribu dollar di Las Vegas. Profesor Rosa berang hingga ia menuntut Ben untuk mengembalikan uang 200 ribu dollar yang ‘dihilangkannya’. Tidak mau memberi, Ben pun digencet dari berbagai macam aspek kehidupannya. Tabungannya dibobol; ia dikeluarkan dari MIT dan banyak lagi hal lainnya. Di Vegas pun, Ben masuk daftar ‘blacklist’ akibat tertangkap oleh musuh lama Profesor Rosa. Dan dengan satu malam, Ben mencoba untuk meraih semuanya itu.
Film ini sekilas ngingetin gue sama Oceans series. Punya identitas sendiri, penyamaran dan mengeruk uang cukup besar. Walau demikian, mereka menggunakan kekuatan mereka, angka.
Ada satu quote dari Ben yang menurut gue cukup bagus, dia bilang (setelah dia interview untuk beasiswa di Pre-Medical School Harvard): I don’t have any life experience that will dazzle people because I haven’t done anything. Something like that. Mengingatkan gue akan diri gue sendiri, have I done something? Sure I have.
No comedy, tapi surely ngebuat gue kangen sama film yang tipe-tipenya Oceans sama Mission Impossible.
Pemain: Jim Sturgess Kevin Spacey Colin Angle Kate Bosworth Laurence Fishburne Aaron Yoo Liza Lapira Josh Gad Sam Golzari Jacob Pitts Jack McGee Roger Dillingham, Jr.   | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Ini film, gue suka banget (hehhehehe). Kenapa yah? Mmmm… mungkin karena ini komedi juga (setelah sekian lama gue nggak nonton film komedi. Coba li’at referensi-referensi gue yang kemaren!!!) dan emang rada-rada cewek gitu kali yah? (sooo???)
Film ini dimulai dari satu episode kampus, dimana seorang cowok gila seks salah nidurin cewek, yang tentu saja sampe’ disemprot parfum sama si cewek. Itulah masa dimana Tom Bailey (Patrick Dempsey) pertama kenal dengan Hannah (Michelle Monaghan). Mereka akhirnya menjadi seorang sahabat sampai mereka dewasa. Persahabatan mereka begitu murni, sampai suatu hari Hannah terpaksa pergi ke Scotlandia untuk suatu pekerjaan. Hannah harus pergi sampai enam minggu.
Dalam waktu enam minggu itulah Tom merasa bahwa ia punya ‘rasa’ ke Hannah. Merasa sangat kehilangan. Terutama saat dia berusaha untuk mengajak perempuan-perempuan yang pernah berhubungan sama dia, ke tempat-tempat yang sering dikunjunginya bersama Hannah, dan tidak mendapatkan respon yang menyenangkan seperti halnya ketika ia sedang bersama dengan Hannah. Beranjak dari rasa kehilangan tersebut, Tom berniat untuk menyatakan cintanya saat Hannah kembali dari Scotland.
Diluar dugaan, Hannah pulang dari Scotland membawa seorang lelaki bernama Collin McMurray (Kevin McKidd), yang akan dinikahinya di Scotland dalam jangka waktu dua minggu terhitung dari masa dimana Hannah bertemu dengan Tom di new York (setelah Hannah kembali dari Scotland). Untuk pernikahan tersebut, Hannah meminta Tom untuk menjadi maid of honor-nya. Selama dua minggu itu juga, Tom berusaha sebisanya untuk memperlihatkan kepada Hannah betapa ia telah dewasa dan lebih layak untuk dinikahi Hannah ketimbang Collin.
Satu kejadian yang menurut gue sangat sangat menyentuh adalah ketika Tom sama Hannah di Scotland sebelum Hannah merit. Suatu hari, Hannah harus menjalani satu tradisi di Scotland, dimana ia harus berkeliaran di public dan menjual 1 ciuman (meaning, all those guys can kiss her by paying some money). Dan Tom membayar, just to kiss Hannah (segitunyaaaa… mau nyium aja sampe harus bayar!!!).
Singkat cerita, Tom mengundurkan diri jadi maid of honor, dengan alasan bahwa ia tidak sanggup memberikan Hannah kepada Collin. Dan gue... menolak untuk memberitahu gimana ending-nya (hahahahahahhaha).
Film ini, asli kocak abis dan gue juga jadi inget satu pepatah yang bilang, “You don’t know what you’ve got, until it’s gone” (so true, babe!). Kekocakannya itu yang ngebuat gue kayaknya fresh lagi. Dan tentu saja, dari sekian banyak film komedi romantis, kayaknya blon ada tuh konsep dimana mau nyium aja (sangking desperatenya buat nyata’in cinta) kudu bayar.
Nggak ngebosen’in dan proporsional. Keren. Gue mau tuh nonton lagi :D
Gue ngasih empat bintang; tapi gue pikir, ini film bisa gue kasih lima bintang juga loohhh… ah ya sudah… lima deh *ini kan pendapat gue, nggak boleh ada yang protes!!!*
Pemain: Patrick Dempsey Michelle Monaghan Kevin McKidd Kadeem Hardison Kelly Carlson Busy Phillips Sydney Pollack     | D-War | Jun 10, '08 11:21 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Film yang satu ini sebenarnya nggak masuk scenario gue sebagai film yang bakalan gue tonton. Tapi ternyata, gue tonton juga; dan to be honest, film ini lumayan apalagi diperkuat sama efek-nya.
D-War bercerita tentang legenda Korea dimana terdapat 2 buah ular (Imoogi) di dunia ini, yang ‘bermaksud’ untuk menjadi naga; naga baik dan naga jahat. Untuk dapat menjadi naga, ular-ular ini harus bersatu dengan Yoo-Ri-Joo yang terletak di dalam manusia; umumnya adalah perempuan. Yoo-Ri-Joo ini akan mulai aktif pada saat perempuan tersebut berumur 20 tahun. Perempuan ini akan dapat dikenali dari tato naga merah yang terletak di bahunya yang ada semenjak ia lahir.
Di satu masa, seorang pendekar membesarkan seorang anak muda yang ditakdirkan untuk menjadi sang penjaga putri, bayi perempuan yang membawa tanda lahir naga tersebut. Namun, ketika beranjak dewasa, sang putri jatuh cinta pada si penjaga. Ketimbang menyerahkan sang putri pada ular baik, yang artinya sang putri harus mati, si penjaga memilih mati berdua bersama sang putri; mereka lompat ke laut saat melarikan diri dari naga jahat.
Kedua sosok ini pun bereinkarnasi menjadi seorang reporter bernama Ethan Kendrick (Jason Behr) dan seorang remaja bernama Sarah Daniels (Amanda Brooks). Singkat cerita, sejarah pun berulang; namun kali ini, Ethan dan Sarah tidak mati sebagai sepasang kekasih.
Ada beberapa kejanggalan yang gue lihat disini, yang ngebuat gue jadi merasa aneh sama ceritanya.
Pertama adalah Sarah dan Ethan itu nggak pernah bertemu sebelumnya, tapi mereka tiba-tiba bisa jatuh cinta. Nggak ada line juga yang bilang (misalnya), “I feel like I’ve known you for a long long time…” Pokoknya indikasi bahwa mereka itu jatuh cinta sebenarnya nggak ada, which is menurut gue jadi aneh.
Kedua adalah ini film nggak pernah menyelesaikan masalah, yang ada adalah film ini ngajarin tentang kabur dari masalah. Lariiii melulu. Mbok ya ada sisi-sisi dimana mereka belajar (misalnya) tentang Imoogi itu sendiri, belajar kelemahannya dimana kek, apa kek. Well, sisi petualangannya kan jadi lebih jelas ketimbang lo lari dengan nggak ada tujuan yang jelas.
Despite dari dua hal yang menurut gue aneh itu, gue tetep salut sama efek-nya. Terutama waktu Imoogi jahat lagi ngejar Ethan sama Sarah sampe’ ke gedung liberty. It was awesome. Liuk-liuk ularnya sangat jelas terlihat. Liuk-liuk naga juga jadi keren banget pas di akhirnya.
Bukan tipe film dimana lo pengen ketawa. Film ini rada suram sih, mungkin juga karena si Ethan ini wajahnya terlalu serius dan misterius. Jadinya, film ini kelihatan serius banget.
Yang ngebuat film ini keren emang efeknya dan perangnya. Gue suka adegan-adegan perangnya. Lumayan laaahhh…
Pemain: Jason Behr Amanda Brooks Robert Forster Chris Mulkey Elizabeth Pena Cody Arens      | Juno | Jun 6, '08 9:33 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Other |
Juno (Ellen Page) cerita tentang suka dukanya menjadi seorang remaja, yang terjebak dalam sebuah ‘keinginan’ dan belajar menghadapinya. Sebagai seorang remaja, gue boleh bilang, Juno mengambil keputusan terbesar dan terberat yang pernah diambil oleh seorang remaja seumuran Juno.
Juno mengandung bayi hasil hubungannya dengan Bleek (Michael Cera), teman sekelasnya, tanpa rasa apapun (jatuh cinta juga nggak). Dengan berbagai macam pertimbangan, Juno memilih untuk melahirkan sang anak, dan pada akhirnya diberikan kepada orang lain. Suka duka seorang remaja yang memilih untuk tetap sekolah di saat perutnya membesar pun tertuang di film ini.
Seiring dengan berjalannya waktu, Juno menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Bleek, demikian pula sebaliknya. Akhirnya, Juno pun melahirkan seorang anak, namun ia memilih untuk tidak melihat sang anak dan memberikannya pada seorang ibu yang telah 5 tahun dalam pernikahannya mendambakan kehadiran seorang anak. Di akhir cerita, Juno menjalani hidupnya sebagai seorang remaja biasa lagi, dan jadi’an sama Bleek.
Menurut gue film ini bagus, walaupun memang begitu banyak drama-nya dan nggak lucu-lucu amat, biasa aja. Yang ngebuat gue ngasih empat bintang adalah film itu pastinya bakalan jadi inspirasi banyak orang. Gimana orang tua Juno yang kaget, memang, tapi tetap mendukung Juno apapun keputusan yang ia ambil. Juno tidak dikucilkan, membuat ia kuat dalam menghadapi segala masalah yang ia alami.
Peran seorang teman baik pun sangat berpengaruh dalam diri Juno. Seorang teman yang baik adalah yang memang bisa menerima diri kita apa adanya, bahkan ketika kita melakukan hal-hal yang mungkin memalukan sekaligus.
See, orang tua Juno tidak memaksa Juno untuk melakukan aborsi. Di luar dugaan, sang ibu tiri malah mau bersusah payah untuk Juno. Memperhatikan makanannya, kesehatannya, mengantar ke dokter dan begitu banyak hal lainnya. Mereka juga nggak langsung grebek Bleek untuk meminta pertanggungjawaban. Justru Bleek yang akhirnya membuka matanya dan menerima Juno apa adanya.
Sebuah film yang menyenangkan, menurut gue. Film ini nunjuk’in bahwa, mulut berbusa kita nggak akan bisa menolong orang yang bandel; tapi kesetiaan kita pada orang lain yang bagi kita berharga, itulah yang bisa menolong orang.
Inspiring, especially if you are parents who deal with a teenage girl/boy.
Pemain: Ellen Page Michael Sera Jennifer Garner Jason Bateman Allison Janney J.K. Simmons Olivia Thirlby   | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Nim’s island cerita tentang sebuah pulau yang sangat terpecil dimana tinggal seorang ilmuwan bersama dengan seorang anaknya. Pulau ini tidak diberitahukan kepada sembarang orang, sehingga tak satu pun orang mengetahuinya.
Suatu hari, sang ayah (Gerard Butler) pergi ke belahan pulau lain, untuk mengambil contoh plankton, meninggalkan Nim (Abigail Breslin) seorang diri. Badai besar menghantam kapal sang ayah, sehingga kapal tersebut pun hancur sebagian, namun tidak dapat berlayar. Nim yang merasa ditinggalkan merasa kesepian dan ketakutan. Hingga, ia menerima e-mail dari Alex Rover, seorang tokoh fiktif karya Alexandra Rover (Jodie Foster). Alex Rover digambarkan sebagai seorang petualang yang selalu berani untuk mencoba hal baru. Hal tersebut berbanding terbalik dengan sang pengarang.
Alexandra Rover adalah seorang penakut yang tidak berani keluar rumah, karena takut bakteri-bakteri di luar rumahnya akan menyerang dia. Namun, e-mail Nim yang memanggilnya untuk meminta pertolongan mengubah pikirannya. Akhirnya, Alexandra Rover pun meninggalkan San Francisco untuk mendatangi Nim.
Singkat cerita, tentu saja happy ending. Kapalnya sang ayah bisa jalan (dengan bantuan pelikannya si Nim) dan si Alexandra pun bisa nyampe’ ke Nim’s island. Yah, akhirnya, mereka bertiga deh tinggal disitu, jadi satu keluarga. Garing kan?
Buat ketawa-ketawa, ini ok deh. Tapi dari segi cerita, nggak seperti yang gue harapkan ato’ bayangkan. Biasa banget. Gue lebih prefer Fools’ Gold ketimbang film yang satu ini. Hehehehh…
Tapi harus gue akui, Jodie Foster actingnya tetep nggak ada matinya.
Pemain: Abigail Breslin Jodie Foster Gerard Butler   | Category: | Movies | | Genre: | Other |
Akhirnya, gue nonton juga film yang satu ini. Gue sebenarnya emang udah lama banget sih pengen nonton film yang satu ini. Mengingat kabarnya film ini adalah best picture tahun 2007, gue jadi penasaran dong. sama penasarannya dengan kenapa film ini nggak heboh diputer di 21, melainkan heboh diputer di blitz. Dan sepertinya, gue tau jawabannya apa.
No country for old men sebenarnya adalah sebuah cerita tentang kebingungan seorang sheriff dengan kehidupan ini. Sangking bingungnya, ia memutuskan untuk akhirnya, mengundurkan diri.
Diawali dengan ditangkapnya seorang penjahat berwajah dingin (menurut gue sih yeh), tapi ekspresinya cukup menimbulkan horror buat setiap orang yang ngeliat dia. Dengan diborgol pun, sang penjahat bisa membunuh orang. Nama sang penjahat adalah Anton Chigurh (Javier Bardem). Di belahan lain, ada seorang lelaki biasa, tukang nembakin binatang, bernama Moss, Llewelyn Moss (Josh Brolin), yang pada suatu ketika menemukan beberapa mobil dimana setiap awaknya mati, bahkan anjing mereka pun mati. Ternyata, sebelum kedatangan Moss, sempat terjadi baku tembak kecil, yang melibatkan marijuana Mexico dan uang dalam jumlah yang sangat besar. Marijuana ditinggalkan, uang ia bawa lari.
Chigurh pun mengejar Moss dan berusaha untuk menemukannya beserta dengan uang tersebut tentunya.
Chigurh selalu dapat menemui Moss, dimana hal tersebut membuat Moss terheran-heran. Ternyata, koper dimana uang tersebut berada, dipasang alat dimana orang yang memiliki alat penerimanya, akan dapat melacak kemana pun uang tersebut pergi.
Baku tembak terjadi. Sang Sheriff belum juga dapat menemukan Moss maupun Chigurh. Seluruh korban yang ditinggalkan oleh Chigurh, selalu mati tanpa menggunakan senjata. Chigurh menggunakan sejenis senapan angin manual, dimana seluruh korbannya tidak dapat memberikan petunjuk peluru jenis apa yang digunakan.
Singkat cerita, tentu saja sang sheriff dapat memecahkan masalah tersebut, namun, beliau terlambat ketika akan menyelamatkan Moss.
Sang Sheriff pun pensiun, sesuai dengan keinginannya, tanpa pernah mendapatkan Chigurh.
Menurut gue, film ini cukup seru (makanya gue kasih 3 bintang); sukses deh sebagai sejenis film thriller (gue sampe’ duduk semelorot mungkin). Tapi kalo’ dari ending-nya, gue lebih milih Michael Clayton. Overall, gue lebih suka Michael Clayton kemana-mana, sangat jauh!!! *kenapa bukan Michael clayton yang marah?*
Dari film ini gue belajar, bahwa… gue nggak boleh jadi juri-nya Academy Award.
Pemain: Tommy Lee Jones Josh Brolin Javier Bardem   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Film ini udah gue incar dari semenjak gue nonton ekstra-nya pas bulan April kemaren. Gue suka banget sama film-film Indiana Jones karena bagi gue, film ini menarik banget dan kaya sama yang namanya ilmu pengetahuan.
Indiana Jones (Harrison Ford) dituduh bersekongkol dengan KGB (agen rahasia Rusia), lantaran ia kedapatan berada di dalam suatu area percobaan senjata nuklir dan kehilangan salah satu temannya, yang ternyata berkomplot dengan KGB. Hal tersebut menyebabkan Indy diberi ‘cuti’ sampai waktu yang tidak ditentukan oleh universitas, karena dianggap membahayakan reputasi universitas. Indy pun berniat untuk pindah ke kota lain, Leipzig, dan berniat untuk mengajar disana.
Saat Indy sudah menaiki kereta, seorang pemuda nyentrik (berjaket kulit hitam, mengendarai harley-nya di peron – dasar songong!) mencari-cari dia. Ketika bertemu, Indy pun meladeni anak muda tersebut yang belakangan diketahui namanya adalah Mutt Williams (Shia LaBeouf).
Mutt menceritakan pada Indy tentang maksudnya untuk menemukan Indy. Ibunya, Mary Williams (Karen Allen), sempat bertukaran surat dengan salah satu teman lama Indy, Harold Oxley (John Hurt), yang juga merupakan seorang arkeolog. Dalam surat-suratnya, dikatakan bahwa Oxley telah dinyatakan kehilangan akalnya karena Oxley menemukan salah satu tengkorak kristal dan berusaha untuk mengembalikannya ke tempat semula, yang sampai dengan saat itu, dipercayai Indy sebagai tahyul. Mutt bercerita, surat-surat itu membuat sang ibu pergi mencarinya. Dan kini, sang ibu meminta Mutt untuk mencari Indy, karena sang ibu percaya bahwa Indy akan dapat menemukannya.
Singkat cerita, Indy dan Mutt menemukan Mary dan Oxley. Disini lah Indy mengetahui, bahwa Mary adalah mantan kekasihnya, Marion Ravenwood, yang ia tinggalkan beberapa tahun sebelumnya. Mutt? Well, nama aslinya adalah Henry Jonnes the Third; Mutt adalah anak dari Indy.
Petualangan untuk mengembalikan tengkorak kristal itu pun dimulai dan tentu saja, seperti halnya dengan film-film Indiana Jones sebelumnya, banyak kelucuan-kelucuan terjadi plus action-action yang cukup menggelitik. Dan tentu saja, film ini kembali mengajarkan bahwa ketamakan selalu berakibat fatal (ditandai dengan runtuhnya kota yang selama ini dicari-cari Indy dan kawanannya).
Film ini menurut gue ringan banget dan sangat khas Indiana Jones. Tentu saja, ada perubahan juga, Indy sudah menjadi tua, sehingga tidak selincah sebelumnya, jadi emang ritme-nya agak lambat. Namun kecerdasannya, tetap nggak terkalahkan.
Rahang gue sakit nonton film ini dan tentu saja, gue jadi pengen baca bukunya (perasaan dulu gue punya deh. Kemana yah?).
Satu lagi karya Steven Spielberg, yang cukup ringan dan kocak abis. Seperti karya yang main-main, tapi selalu ada unsur edukasi yang tinggi.
Tiga setengah sih dari gue benernya, tapi, gue buletin ke bawah aja yah? Mungkin ini gue subjektif yah, lantaran gue emang suka sama Indiana Jones. Satu lagi, Harrison Ford walaupun masih lincah, tapi udah cukup berkurang (karena umur kali yah :D). Oh iya, endingnya sih menurut gue rada aneh. Mirip sama Asterix and The Falling Sky (sumpah aneh!).
Pemain: Harrison Ford Shia LaBeouf Cate Blanchett Karen Allen Ray Winstone John Hurt Jim Broadbent   | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Setelah berjuang keluar dari kemacetan kota Bogor, yang ngebuat gue nyampe’ Jakarta sekitar jam 9 malem-an, tapi gue ama temen gue masih ngotot untuk ngacir ke Setiabudi buat nonton film yang satu ini, What Happens in Vegas.
What happens in Vegas cerita tentang seorang cewek, Joy (Cameron Diaz) yang diputus’in oleh tunangannya, karena menurut tunangannya, Joy adalah seseorang yang membuat rencana untuk suatu acara yang isinya membuat rencana (weirdo). Joy yang udah keburu cinta mati, diputus’in di sela pesta kejutan buat sang tunangan, dimana semua telinga mendengar pembicaraan mereka berdua. Padahal, Joy udah menyiapkan pesta tersebut, plus tiket ke Vegas.
Di lain pihak, seorang Jack (Ashton Kutcher) bekerja asal-asalan di sebuah pabrik furniture yang dimandori oleh sang ayah (Treat Williams). Sang ayah kecewa karena pada satu hari, ia mendapati Jack kalah bertaruh dengan rekan-rekan sekerjanya. Oleh karena itulah, sang anak dipecat oleh ayahnya.
Kedua orang yang stress ini, akibat petunjuk dari masing-masing sahabatnya, memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dimana tak ada seorang pun akan mengenal mereka, dan mereka ingin menyenangkan hati mereka sendiri. Las Vegas, adalah pilihan mereka berdua.
Sesampainya mereka di Vegas, karena kekacauan sistim computer di hotel, mereka ditempatkan satu kamar (berarti isinya empat orang). Dengan berbagai macam keluhan, mereka pun akhirnya mendapatkan dua buah kamar suite, yang terbaik. Plus… semua fasilitas terbaik yang diberikan oleh hotel, mobil limo sebagai sarana transportasi mereka contohnya.
Mereka berempat, terutama Joy dan Jack, menjadi semakin akrab dan mabuk-mabukan bersama. Singkat cerita, dalam keadaan mabuk, mereka menikah. Cameron terbangun di pagi hari, mendapati sebuah cincin kawin telah terselip di jari manisnya.
Joy dan Jack berniat untuk mengakhiri penikahan mereka saat itu juga. Namun, keduanya malah bertengkar. Sebelumnya, Joy bermain mesin jackpot, dan meninggalkan sisa satu buah koin 25 sen, yang digunakan oleh Jack, di saat Joy meninggalkannya dengan emosi. Koin tersebut menghasilkan jackpot, dimana tiga juta dollar menjadi hadiahnya. Joy dan Jack sama-sama mengklaim uang tersebut, karena masing-masing merasa punya andil atas uang itu.
Mereka kemudian membawa masalah perceraian mereka ke pengadilan dengan harapan mereka bisa mendapatkan bagian mereka masing-masing. Namun, pengadilan memutuskan untuk membekukan uang hadiah mereka, memberikan waktu hingga 6 bulan bagi pasangan tersebut untuk benar-benar memastikan apakah mereka yakin mau berpisah atau tidak.
Kurun waktu 6 bulan inilah yang menurut gue cukup kocak, karena masing-masing berusaha menjebak satu sama yang lain, agar mereka dapat mempercepat perceraian, dan mendapatkan bagian mereka, bahkan, termasuk bagian yang lain kalau perlu. Dalam kurun waktu 6 bulan ini jugalah, cinta mereka bersemi.
Sekilas, kalo’ dipikir-pikir, film ini mirip sama film How to lose a guy in 10 days (salah satu film yang gue suka juga). Yah, kalo’ gue yang mikir, kadang-kadang gue merasa semua film itu sama deh alurnya (kkekekekekek). Filmnya kocak abis, alur ceritanya lumayan. Mungkin, kalo’ gue blon nonton How to lose a guy in 10 days, gue bisa ngasih 4 bintang. Masalahnya, ceritanya udah pernah gue tonton, jadinya yah… menurut gue jadinya biasa aja sih.
Dari gue, 3 – 3.5 bintang deh gue kasih.
Pemain: Cameron Diaz Ashton Kutcher   | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Akhirnya, setelah penyesuaian jadwal (hidup tim uber Endonesaaahhh!!!), jadi juga gue nonton film yang satu ini; dan menurut gue sih, film yang ini lebih bagus dari yang pertama yah. Kakak gue juga setuju, nah gue nggak tau sama kalian.
Cerita soal Narnia yang ini adalah tentang seorang Pangeran Caspian kesepuluh, yang mau dibunuh oleh pamannya, Miraz, yang ingin mengambil tahta sang Pangeran. Miraz sendiri membunuh sang ayah, King Caspian the Ninth, semata-mata untuk mengincar tahtanya.
Pada saat itupun, Narnia telah menjadi daerah yang tidak bersahabat, karena begitu banyak wilayahnya yang di-eksploitasi oleh orang-orang dari kerajaan Telmarine, yang diambil alih oleh Miraz waktu itu. Oleh karena itu penduduk Narnia pun menjadi sangat menderita dan membenci setiap orang dari kerajaan Telmarine; termasuk Pangeran Caspian ke-10, sebagai latar belakang cerita.
Pangeran Caspian (sebelum melarikan diri), telah dibekali oleh sebuah ‘horn’ yang jika ditiup, akan mendatangkan raja-raja dan ratu-ratu Narnia di masa lampau, Peter, Susan, Edmund dan Lucy. Berhubung Pangeran Caspian terjepit antara ‘warga’ Narnia dan tentara Kerajaan, ia pun meniup horn itu, yang artinya, mendatangkan kembali keempat petinggi Narnia di masa lampau.
Ketika keempat petinggi Narnia tersebut akhirnya sampai, mereka tidak dapat menemukan Aslan, ‘pejabat’ yang (akan selalu) ditinggikan di Narnia. Konon menurut ‘warga’ Narnia, Aslan meninggalkan mereka. Karena itulah, Peter, sebagai Raja Mahatinggi, memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini sendiri saja, maksudnya, tanpa harus mencari Aslan (very Peter sih menurut gue, rada sedikit emosional dan cukup ‘bossy’. Gak tau versi kalian yah).
Tindakan Peter yang pertama, ditambah dengan emosinya Pangeran Caspian, mengakibatkan begitu banyak warga Narnia yang mati di Kerjaan Telmarine, pada saat Narnia berencana untuk ‘menggrebek’ kerajaan tersebut. Semua kesal dan saling menyalahkan. Pangeran Caspian sendiri, merasa ‘out of place’ dan akhirnya hampir diperdaya oleh para ‘pengkhianat’. Pangeran Caspian dibawa ke satu tempat, dimana the white witch (musuh Narnia di bagian pertama) berusaha untuk mendapatkan setetes darah dari Pangeran Caspian, hanya untuk bisa ‘hidup’ kembali. Namun tindakan tersebut akhirnya berhasil digagalkan setelah Edmund memecahkan medium es tempat white witch tersebut ‘bersembunyi’.
Sejak saat itu, Pangeran Caspian dan keempat petinggi masa lalu Narnia bekerja sama untuk mengalahkan Miraz, merebut tahta Caspian di Telmarine dan mengembalikan semua hak warga Narnia.
Terus terang, gue lebih suka alur cerita Narnia yang kedua ini, ketimbang yang pertama. Terus, gue suka scene-nya. Pantai waktu pertama kali Peter cs itu nyampe, asli keren banget. Pasirnya putih banget dan lautnya biru banget. Ponakan gue sampe’ bilang, “Tante, itu dimana sih?”. Mene ge teheee… Belum lagi sungainya. Keren banget.
Narnia yang ini juga lebih lucu (kocak) dan gue dapet beberapa pelajaran dari situ.
1. Kadang kita kurang percaya sama anak kecil. Tapi tau nggak, kebanyakan anak kecil itu masih polos dan punya hati yang lebih murni daripada orang dewasa. Makanya, mereka cenderung bisa lihat apa yang kita nggak bisa lihat. Intinya adalah punya hati yang tulus dan murni, membuat kita bisa ngeliat sesuatu lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata biasa.
2. Jabatan kita tidak pernah membenarkan kita. Oleh karena itu, lebih sering lah mendengar pendapat orang, ketimbang (selalu) membenarkan pendapat sendiri. Punya second opinion laaahhh…
3. Kadang kita juga nggak percaya pada diri kita sendiri, sehingga kita jadi memilih jalan yang popular ketimbang kita mengambil hal yang nggak popular. Padahal, justru hal yang nggak popular itu yang bisa membawa kita ke tingkat tertentu. Btw, ini applicabilitynya case by case yah, nggak semua case.
4. Humility is one sign to be a leader.
Oh iya, sumpah gue nge-fans sama Aslan. Surainya itu loooohhhh. Terus, waktu dia mengaum, gileeee…. Keren banget… jadi pengen punya singa… Lah, beda’in mana singa, mana harimau ama macan aja gue gak tau (kekekkekk)
Tiga bintang ini gue kasih (maunya tiga setengah; agak berat mau ngasih empat bintang), karena penilaian gue dari scene-nya, alur ceritanya (yang lumayan rapih ketimbang sama yang pertama) sama lucunya boleh lah. Kalo’ inti ceritanya sih, mungkin simple aja yah; biasa banget (bantu’in orang buat ngambil tahta balik).
Tapi terus terang, film ini ngebuat gue jadi pengen baca bukunya. Kayaknya lucu juga. Hahahaha... *gak lucu yah? iya sih... emang nggak...*   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Gue suka film ini, karena bagi gue, alurnya cukup mudah untuk dimengerti dan nggak banyak adegan ‘dewasa’nya, malah hampir gak ada (kadang-kadang kebanyakan yang satu ini malah mengurangi tujuan film ini dibuat). Gue suka ceritanya, tapi, gue nggak terlalu suka sama gelimpangan darah yang banyak banget.
Oh iya, di salah satu scene, gue sempet berpikir, jangan-jangan, film ini bakalan sama ama Departed (salah satu film yang gue benci), tapi ternyata nggak (thank God). Kalo’ cerita, intinya lebih mirip sama Michael Clayton (which is gue suka banget film ini).
Tom Ludlow (Keanu Reeves) adalah detektif dari departemen Susila Khusus (ini apa yah maksudnya?) di LAPD. Ludlow merupakan detektif yang paling merajalela dan ‘hasil karyanya’ dinilai outstanding oleh kebanyakan rekannya. Namun, ia adalah seorang peminum kelas berat. Entah karena ditinggal istrinya (meninggal) atau karena hal lainnya.
Ludlow memiliki ex-partner, bernama Terrence Washington (Terry Crews). Namun, pada satu masa, mereka berdua harus dipisahkan dan Washington selalu dianggap ‘sirik’ kepada Ludlow. Suatu ketika, Ludlow yang memiliki rencana untuk berbicara dengan Washington, terjebak di dalam sebuah supermarket. Ludlow pun menyaksikan Washington yang dibunuh dengan senapan laras panjang dan juga beberapa senapan canggih lainnya. Semenjak kejadian tersebut, Ludlow ‘dikandangkan’.
Ludlow ditempatkan sebagai petugas polisi yang bertugas untuk menerima keluhan dari warga mengenai polisi-polisi. Walaupun Ludlow dikandangkan, namun ia tetap berusaha untuk mencari tahu siapa yang membunuh Washington.
Dalam ‘petualangan’nya, ia menemukan begitu banyak fakta-fakta yang menipu dan menyesatkannya, sehingga ia jadi bingung sendiri, mana yang lawan dan mana yang kawan.
Film ini bagus (karena gue juga suka film action anyway); mulai dari ceritanya, moral of the story-nya dan action-nya.
Film ini gue tonton di penghujung ‘masa’nya. Secara film ini diputar tinggal di Blitz Grand Indonesia. Dan karena film inilah, gue akhirnya berhasil juga menggenapi cita-cita gue, nonton sendirian di bioskop; di Blitz pula. Nggak sih, gue nonton sama kakak gue, cuman dia nonton Earth (yang udah gue tonton). Heheheh…
Film ini keren banget, asli. Gue pengen ngasih 4.5 sih. Tapi yah, 4 aja cukup kan yah?
Pemain: Keanu Reeves Forest Whitaker Hugh Laurie Chris Evans Common Naomie Harris Terry Crews Jay Mohr
Ime’…   | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Kalo’ ngeliat dari posternya sama judulnya, pasti menurut kalian, film ini adalah tentang balapan mobil. Dan ternyata, kalian… ada benarnya juga *gak penting yah?*
Speed Racer (Emile Hirsch) adalah seorang anak muda yang dari kecil cuman tertarik dengan yang namanya balap mobil. Ayahnya seorang perakit mobil balap, sedangkan kakaknya, Rex Racer (Scott Porter), adalah seorang pembalap terhebat di masanya. Sedari kecil, Speed sangat mengagumi kakaknya. Ia bahkan berharap untuk menjadi seperti kakaknya. Suatu hari, sang kakak meninggalkan rumah. Rex tetap bertanding, namun reputasinya jatuh lantaran dalam beberapa kali pertandingan, ia disinyalir berbuat kejahatan (menabrak mobil lain dengan sengaja, dan lain sebagainya).
Di satu balap mobil dengan rute yang sangat panjang (mirip Paris Dakar mungkin yah), yang bernama Casa Cristo, mobil yang digunakan Rex terlihat terbakar. Rex divonis telah mati dan hal tersebut menimbulkan kesedihan yang luar biasa bagi sang ayah dan juga Speed.
Speed bertumbuh besar dan (tentu saja), menjadi seorang pembalap. Sama seperti sang kakak, Speed menjuarai begitu banyak turnamen-turnamen. Demi mengenang sang kakak, agar namanya terus menjulang (walaupun telah mati), Speed seringkali mengerem mendadak di dekat garis finish. Hal ini menyebabkan rekor waktu Rex Racer tidak terkalahkan.
Suatu saat, seorang milyarder bernama Royalton dating ke kediaman Racer untuk mengajar Speed bergabung dengan tim balap mobilnya. Royalton menjanjikan begitu banyak materi baik kepada Speed dan ayahnya. Namun, Speed menolak.
Royalton sangat membenci Speed, sehingga ia berusaha untuk menjatuhkan Speed dan ayahnya. Singkat cerita, sang ayah dan Speed mendapatkan rumor yang tidak baik, namun mereka tidak dapat melakukan apa pun.
Seorang Investigator dan seorang pembalap bernama Racer X kemudian mendatangi kediaman keluarga Racer untuk mengajak Speed membongkar kejahatan Royalton. Yang dapat dilakukan oleh Speed adalah bergabung dengan Racer X di tim Taejo Togokhan, anak seorang pengusaha Jepang. Jika Togokhan menang, maka, Togokhan akan membeberkan semua kelicikan-kelicikan Royalton dalam pertandingan-pertandingan sekelas Grand Prix. Namun, turnamen yang harus diikuti oleh Speed adalah … Casa Cristo, yang mana tentu saja sang ayah melarangnya untuk pergi. Namun Speed pergi juga.
Petualangan di Casa Cristo adalah yang terkeren (menurut gue). Viewnya dan beberapa movement dengan efek serupa Matrix-pun mulai keluar. Dan emang gue paling suka adegan yang ada di sini. Nggak heran, yang ngebuat effect-nya adalah John Gaeta, orang yang sama yang memenangkan Academy Award untuk Visual Effects untuk film The Matrix.
Eniwei, Togokhan akhirnya menang. Namun ternyata, ada kesepakatan antara Togokhan dengan Royalton; yaitu, apabila Royalton kalah, maka Royalton akan membeli saham Togokhan. Kemenangan di Casta Cristo, membuat Togokhan menaikkan harga sahamnya yang dibeli oleh Royalton. Tentu saja, semua kebusukan Royalton tidak juga dibeberkan oleh Taejo Togokhan.
Kesal, sedih dan kecewa, Speed akhirnya mulai mempertanyakan alasan ia balap mobil. Apakah ia hanya menjadi sebuah boneka dari perusahaan untuk menaikkan saham mereka? Sebuah pertanyaan yang sangat dalam dan harus ia cari sendiri.
Kekalahan Speed beberapa waktu lalu (bukan di Casa Cristo), membuat Speed harus melewati kesempatan untuk mengikuti Grand Prix. Namun, adik dari Taejo Togokhan mengambil satu undangan resmi kepada Speed, agar Speed dapat memberi pelajaran kepada Royalton. Karena tentu saja, Grand Prix ini telah didesign mengenai siapa yang akan menjadi juara, tentu saja… Royalton. Apabila Speed dapat memenangkan pertandingan ini, Royalton akan hancur.
Menurut gue ceritanya biasa aja. Tapi efeknya keren banget, asli. Lumayan ada lucu-lucunya juga; tapi tentu saja, ketutupan sama efeknya.
Satu karya lagi dari mahluk-mahluk ‘pencipta’ matrix. Efeknya keren; ceritanya sih, biasa aja. Tiga setengah sih sebenarnya dari gue.
Kalo’ emang mau liat efek, Speed Racer merupakan salah satu tontonan yang menarik kok. Nonton aja.
Pemain: Emile Hirsch John Goodman Christina Ricci Susan Sarandon Matthew Fox
Ime’…
PS: menurut gue sih, genre-nya kids & family, kalo' kalian tersinggung (hah??) yah, maap lah yaaa :D      | Ironman | May 5, '08 5:22 AM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Kalo’ ada bintang 4.5, gue kasih 4.5, tapi gue cuman kurang rela untuk ngasih 5 bintang, entah kenapa (hahahhaha).Gue suka film ini, karena film ini juga punya moral story tersendiri bagi gue; yaitu, before you do something, please think where will it ends.
Tony Stark (Robert Downey Jr.) adalah seorang jenius yang kehilangan orang tuanya karena kecelakaan ketika ia masih muda. Ia mewarisi pabrik senjata, dimana ia merupakan salah satu otak jenius yang menciptakan berbagai macam senjata; salah satunya adalah Jericho.
Tony Stark kemudian dikirim ke Afganistan, untuk mendemonstrasikan kekuatan Jericho kepada tentara Amerika. Dan disinilah segala sesuatu bermula. Afganistan membuat Tony Stark terluka, bahkan nyaris mati, namun seorang dokter menyelamatkan hidupnya, dengan membuat semacam alat pemacu jantung dari aki dan bersifat sangat sederhana. Sementara Tony disekap, tentara Afganistan memintanya untuk merakit Jericho. Segala sesuatu yang diminta oleh Tony akan dipenuhi keberadaannya, asalkan ia dapat merakit Jericho.
Namun, bukannya ia merakit Jericho, ia malah merakit satu baju besi yang sangat kuat lengkap dengan persenjataannya, di dalam gua tempat ia disekap saat itu. Dengan baju besi tersebut, ia berhasil meloloskan diri.
Keluar dari Afganistan, matanya terbuka akan senjata-senjata yang dibuatnya, sehingga ia memutuskan untuk menutup pabrik senjatanya. Tentu saja hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, apalagi kehidupan yang sangat nyaman juga telah dirasakan oleh teman baik sang almarhum sang ayah, Obadiah, yang selama ini membesarkannya.
Apa mau dikata, Tony yang telah menyesal karena senjatanya dipergunakan untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah, dan membunuh begitu banyak tentara Amerika di sana, membuat satu baju besi yang lebih canggih dari yang ia dibuat. Dan dengan baju besi itulah, ia menjelma menjadi seorang… ironman.
Film ini menurut gue keren abis. Bukan cuman sebuah film yang kaku dan terlampau serius, film ini bisa juga ngebuat ketawa. Lucu banget dan kocak. Belum lagi ditambah sama ekspresi dan kegilaan seorang Tony Starks. Special effect-nya lumayan. I love his workshop anyway; love his lab and his cars (my God!!!). Tapi asli, film ini keren. Sayangnya yang kurang keren adalah intinya, seorang Tony Starks itu bisa hidup karena kekuatan cinta (halah!). Klasik kan????
Film ini berdurasi sekitar 2 jam-an. Tapi asli, nggak ngebosen’in dan keren. Recommended banget deh.
Pemain: Robert Downey Jr. Terrence Howard Gwyneth Paltrow Jeff Bridges   | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Jika anda adalah seorang ibu dengan satu anak dan anda memiliki seorang ‘nanny’, ada baiknya anda mulai menonton film yang satu ini untuk menjaga diri anda supaya tidak seperti majikan yang digambarkan disini.
The Nanny Diaries adalah film yang menceritakan mengenai kehidupan wanita tingkat ‘atas’ yang mencari seorang nanny. Walau mereka tidak bekerja, namun, mereka terlihat sangat sibuk sekali, meeting disana, penggalangan dana disini, sehingga anak mereka pun tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya dari orang tua. Di sini digambarkan bahwa apapun yang anak mereka inginkan, dapat mereka berikan, kecuali, kasih sayang.
Film ini adalah isi hati seorang Nanny (Scarlett Johansson), salah satu lulusan terbaik di bidang ekonomi antropologi (whatever that means), yang kemudian menganalisa kehidupan dari seorang kaya. Lucu, kocak, dengan pesan-pesan yang cukup berarti buat kita semua, orang tua dan calon orang tua.
Layak ditonton, terutama menurut gue, message-nya sangat penting buat kita semua. Tapi teteup, tiga bintang aja dari gue (pelit yah gue :D)
Pemain (dari wikipedia): Scarlett Johansson Chris Evans Alicia Keys Laura Linney Paul Giamatti Judith Roberts
Ime’…
  | Category: | Movies | | Genre: | Kids & Family |
Kalo’ dili’at dari judulnya, menurut kalian ini film apa? Menurut gue, ini film horror, atau thriller, yang ada hubungannya sama laba-laba yang pake’ wig. Nggak yah? Well, anyway, I was completely wrong about it…
Arthur Spiderwick adalah seorang ilmuwan (sepertinya), yang berusaha untuk melihat dunia dari sisi yang lain, sisi yang berbeda, sisi yang mungkin kita nggak pernah bisa bayangkan (atau mencoba untuk bayangkan). Seluruh penemuan Spiderwick, dicatat di sebuah buku, yang isinya adalah jenis-jenis mahluk hidup yang adalah representasi dari gerakan-gerakan alam. Misalnya, guguran dedaunan bunga, sebenarnya adalah mahluk-mahluk kecil yang menari dengan indah dan cantiknya di sekeliling kita; menebarkan keindahan dan kecantikan alam. Buku karya Spiderwick ini menjadi suatu kunci rahasia kekuatan alam, yang bila jatuh ke tangan yang salah, tentu saja akan sangat berbahaya.
Jared Grace adalah cucu buyut dari Arthur Spiderwick, yang pindah ke rumah Spiderwick, lantaran sang ibu adalah satu-satunya ahli waris dari Lucinda Spiderwick, anak sang Arthur Spiderwick yang harus dirawat di rumah sakit jiwa, lantaran ‘dituduh’ sakit jiwa; kerasukan roh jahat katanya. Jared, yang adalah saudara kembar Simon, sangat tidak menyukai kehidupan barunya bersama sang ibu. Jared selalu menjadi kambing hitam di keluarganya dan selalu disalahkan.
Singkat cerita, Jared menemukan buku Spiderwick dan Thimbletack, goblin kepercayaan Spiderwick yang ditugaskan untuk menjaga buku tersebut keluar dari rumah. Dengan segala penglihatan yang dimiliki Jared, yang tentu saja tidak dipercaya oleh seisi rumahnya, Jared berusaha untuk melindungi buku Spiderwick dengan segala yang ia punya dan juga pengetahuannya dari buku tersebut.
Gue suka ceritanya; fiksi yang nggak nanggung menurut gue, dan gue juga suka ‘action’ di dalamnya, yang kata temen gue kurang panjang. Bagi gue sih, actionnya cukup, pas. Walaupun mungkin endingnya sangat simple, tapi lucu. Simple karena, mungkin kebanyakan dari kita nggak mikir ke situ (well, gue berpikir ke sisi satunya sebenarnya; ternyata, ada dua alternatif pemecahan masalah; dan gue suka sama alternatif yang diambil).
Menurut gue, film ini bagus, gak tau buat yang lain. Berhubung review ini menurut sisi gue, boleh dong gue kasih 4 bintang (heheheh).
Enjoy
Quotes: “You’ll die, I’ll die, we’re all die, bye bye…” “Did I just hit someone?” “Yes, thank you…” “Ugh… a bird. Here birdie birdie…”
Pemain (dari Wikipedia): Freddie Highmore Sarah Bolger Martin Short Nick Nolte Seth Rogen
Ime’…
  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Fool’s Gold bercerita mengenai petualangan mencari harta karun oleh seorang laki-laki (Matthew McConaughey… ya ampun, nama kok ya susah?), yang memiliki istri (Kate Hudson), dan sedang berada di ambang perceraian. Well, sebenarnya, saat dimana sang suami kehilangan kapal satu-satunya, merupakan saat dimana ia seharusnya ada untuk menghadiri siding terakhir mengenai perceraian mereka.
Singkat cerita, mereka pun bercerai; namun tentu saja, sang laki-laki masih tetap penasaran untuk mendapatkan harta karun yang sudah delapan tahun diteliti olehnya dan (mantan) istrinya. Kebangkrutan sang suami, akhirnya terakhiri karena majikan sang istri bersedia membantu mereka dalam mencari harta karun tersebut.
Mereka pun berpetualang, berkelana serta berusaha untuk memecahkan misteri tentang keberadaan harta karun tersebut.
Film ini ceritanya sangat ngambang, tapi komedi yang terlibat di dalamnya gila-gilaan. Sepertinya, film yang satu ini memang hanya menjual komedinya ketimbang ceritanya. Gue ngasih 3 bintang, semata-mata hanya karena komedinya dan bukan karena ceritanya.
Di film ini, Kate Hudson kembali berpasangan dengan Matthew McConaughey, yang adalah pasangan main di How to Lose a Guy in 10 days, film lain yang menurut gue juga sangat konyol.
Eniwei, buat yang pengen ketawa-ketawa, nonton film ini asli ngakak. Tapi kalo’ mau cari cerita, to be honest, 27 dresses, jauh lebih baik dari yang satu ini.
Pemain (dari wikipedia): Matthew McConaughey Kate hudson Donald Sutherland Tiffany Grant Ewen Bremner Ray Winstone
Ime’… 
| |